Kenapa Etnis Tionghoa Selalu Menjadi Kambing Hitam?

source: idntimes.com
Tahun 1998 mengingatkan kita tentang tragedi kelam di masalalu, penjarahan, perusakan, diskriminasi dan kebencian yang mendalam akan selalu meninggalkan luka bagi rakyat Indonesia terutama etnis Tionghoa. Prasangka yang buruk seakan menganggap etnis Tionghoa hanya sebagai pendatang. Lahir dan besar di Indonesia tapi bukan rakyat Indonesia sejati.

Etnis Tionghoa telah menjadi bagian dari sejarah Nusantara, mereka datang sebagai pedagang, pengungsi bahkan penyebar agama. Namun mereka kerapkali menjadi kambing hitam terkait kondisi ekonomi di Indonesia. Karena kesuksesan mereka, mereka dituduh sebagai pengusaha licik dengan kekayaan yang cukup banyak.

Kenapa mereka selalu disalahkan atas keberhasilan bisnis mereka?

Faktor berkembangnya bisnis Tionghoa berada pada karakter dari etnis Tionghoa itu sendiri, semenjak kedatangannya di masalalu etnis Tionghoa dikenal memiliki karakter pekerja keras dan mandiri mereka juga memiliki kebiasaan berdagang dan memiliki etos kerja konfusianisme yang menjunjung tinggi menabung, mempersiapkan pendidikan yang baik bagi keturunannya serta kesetiaan pada keluarga. Sementara para pribumi bertahan hidup sebagai petani atau nelayan namun ada juga yang berdagang dan pengusaha.

Pasca kemerdekaan Indonesia, etnis Tionghoa menjadi target kebijakan diskriminatif karena posisi mereka yang signifikan di masa penjajahan. Pada 1954, alat produksi seperti penggilingan padi yang dimiliki etnis Tionghoa diambil paksa ketika pemerintah Indonesia berhasil mengambil alih perusahaan-perusahaan asing. Mereka juga dilarang mengimpor barang baku produksi karena adanya kebijakan yang bisa dikatakan 'nasionalis' yang dilakukan pemerintah. Namun kebijakan nasionalis yang tidak diiringi dengan kemampuan manajemen yang baik berakibat fatal bagi perekonomian Indonesia. Bahkan praktek korupsi sering terjadi dimana kaum Tionghoa diharuskan 'menyogok' kaum pribumi untuk membuka ijinnya mengimpor barang produksi.

Kisah paling kelam juga terjadi di zaman G30S PKI, yang semakin menyudutkan etnis Tionghoa yang dituduh sebagai komunis, karena saat itu china adalah salah satu negara komunis terbesar sehingga masyarakat menganggap mereka adalah mata-mata dari China dan sebagainya. Akibatnya ribuan etnis Tionghoa dibunuh oleh gerakan anti PKI. Akan tetapi ini bukan berarti posisi ekonomi etnis Tionghoa di Indonesia mengalami penurunan.

Saat Suharto menjadi penguasa, Ia malah menjalin hubungan  yang dekat dengan beberapa etnis Tionghoa. Ia memanfaatkan kemampuan bisnis etnis Tionghoa untuk membangun perekonomian Indonesia. Karena kerja sama tersebut etnis Tionghoa tersebut mendapatkan akses 'eksklusif' dari pemerintah untuk hal-hal tertentu seperti dalam hal kredit bank maupun hak tanah. Mereka juga sangat berjasa dalam membantu tentara Indonesia yang membutuhkan dana untuk kebutuhan operasi militer.

Namun ketika Suharto berhasil dilengserkan pada tahun 1998 malah membuat perbedaan antara etnis Tionghoa dan pribumi menjadi semakin kontras. Perasaan benci dan iri hati meningkatkan kerusuhan-kerusuhan yang menargetkan etnis Tionghoa saat itu.

Untuk sekarang pun kebencian itu akan tetap ada, sampai kapanpun etnis Tionghoa akan dianggap sebagai pendatang yang akan dijadikan kambing hitam terkait masalah kekerasan dan masalah sosial. Mestinya ada upaya pendidikan bahwa etnis Tionghoa adalah bagian dari warga negara Indonesia terlepas dari ras yang mereka sandang.

Apakah kita benar-benar pribumi?
Atau hanya pendatang yang mengaku-ngaku pribumi?

jika artikel ini bermanfaat bisa kalian share karena "sharing is caring".

0 Response to "Kenapa Etnis Tionghoa Selalu Menjadi Kambing Hitam?"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel